Inggris Sampaikan Belasungkawa atas Insiden Kebakaran Lapas Klas 1 Tangerang

img ]

loading…

(ian)

  • Duta Besar Inggris di Indonesia, Owen Jenkins menyampaikan ucapan belasungkawa atas insiden kebakaran Lapas Klas 1 Tangerang , Banten. 41 orang tewas dalam kebakaran tersebut.“Turut berduka cita atas jatuhnya korban dalam insiden kebakaran di Lapas Tangerang. Doa kami menyertai keluarga korban, semoga mereka diberikan kesabaran dan kekuatan,” kata Jenkins dalam sebuah pernyataan di akun Twitternya, seperti dikutip Sindonews pada Rabu (8/9/2021).Diketahui, kebakaran hebat melanda Lapas Kelas I Tangerang, sekira pukul 01.50 WIB, dini hari tadi.Direktur Jenderal (Dirjen) Pemasyarakatan Reinhard Silitonga mengatakan, ada sembilan kamar narapidana yang ludesterbakar di Lapas Tangerang, dan dihuni 122 narapidana.Seluruh kamar itu, berada di Blok C2 Lapas Tangerang. Idealnya, dari sembilan kamar itu hanya diisi oleh sekitar 40 narapidana. Diduga karena over kapasitas, akhirnya membuat jumlah korban tewas hingga mencapai 41 orang.Dia mengatakan, seluruh penghuni Blok C 2 di Lapas Tangerang, sebanyak 122 orang narapidana menjadi korban dalam kebakaran itu. Sedang blok lain, jauh dari lokasi.

Apa Kaitan BM Diah Penyelamat Naskah Asli Teks Proklamasi dengan Multatuli Lebak Banten

img ]

NEWSmedia – Nama Douwes Dekker tak asing bagi mayarakat Banten. Pahlawan keturunan belanda pemilik nama pena Multatuli ini pun abadi menjadi nama jalan di Rangkasbitung, Lebak Banten. Mahakarya novel satiris berjudul Max Havelaar yang berisi cerita kekejaman Belanda terhadap pribumi memberikan inspirasi dan motivasi perjuangan melawan penjajahan belanda. Lalu apa kaitan BM Diah dan Multatuli?

Berjasa menyelamatkan Teks Proklamasi asli BM Diah dikenal sebagai seorang wartawan yang banyak membela kaum tertindas. Riwayat dan karir BM Diah tertera lengkap pada laman https://kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id.

Pada tahun 1945 BM Diah mendirikan Harian Merdeka dan menjadi anggota KNIP, menjadi Duta Besar untuk Cekoslovakia, Inggris, dan Muangthai (1959-1968), Menteri Penerangan RI (1968).

Baca Juga: Curug Leuwi Gumi Padarincang, Wisata Air Terjun yang Lagi Hits di Serang, Begini Rutenya

Ketua Umum PWI (1970). Malang melintang sebagai briokrat tak melunturkan pemikiran kritisnya sebagai wartawan.

Lantaran, pada tahun 70-an ia kembali aktif sebagai wartawan dan menerbitkan majalah berita mingguan Ekspres (1970) dan Topik (1972). Selanjutnya menerbitkan Surat Kabar Jurnal Ekuin pada tahun 1981. Yang menarik, dalam catatan yang berhasil ditelusuri NEWSmedia, BM Diah juga tercatat sebagai sekretaris pribadi Douwes Dekker. Kendati demikian tidak diulas secara dalam kaitan antara BM Diah dan Douwes Dekker.

Informasi lain yang dihimpun NEWSmedia dari laman https://diskerpus.lebakkab.go.id/ mengisyaratkan jika BM Diah merupakan Sekretaris Pribadi Douwes Dekker, namun bukan yang bernama lain Multatuli. Dalam sebuah artikel berjudul Perbedaan antara Douwes Dekker Multatuli dengan Douwes Dekker Tiga Serangkai menjelaskan tentang keberadaan Multatuli di tahun keberadaan BM Diah.

Baca Juga: 5 Film Indonesia yang Layak Kamu Tonton Jelang HUT RI

Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli bernama lengkap Eduard Douwes Dekker, adalah pengarang novel satiris Max Havelaar. Eduard lahir di Belanda tahun 1820 dan meninggal di Jerman tahun 1887. Sedangkan BM Diah sendiri lahir 7 April 1917 dan meninggal 10 Juni 1996.

Diceritakan pula, jika Eduard Douwes Dekker mempunyai saudara bernama Jan Douwes Dekker. Jan ini mempunyai cucu bernama Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, atau dikenal dengan nama Ernest Douwes Dekker. Ernest inilah yang merupakan salah satu tokoh dalam Tiga Serangkai yang pernah diasingkan bersama-sama Ki Hadjar Dewantara dan Cipto Mangunkusumo. Ernest Douwes Dekker juga dikenal dengan nama lain yaitu Danudirja Setiabudi. Ernest lahir di Pasuruan tahun 1879 dan meninggal di Bandung tahun 1950.

Ernest Francois Eugene Douwes Dekker adalah nama yang dipakainya dari kecil, sedangkan Nama Danudirja Setiabudi baru dipakai setelah Indonesia merdeka. Nama itu adalah pemberian Presiden Soekarno.

Baca Juga: Isi Pidato Presiden Jokowi Terkait Keadaan Pandemi COVID-19, Penting Diresapi untuk Jadi Motivasi

Danu berarti banteng, Dirja berarti kuat dan tangguh, sementara Setiabudi mempunyai arti berbudi setia. Soekarno berkeinginan nama Danudirja dapat diabadikan sebagai singkatan dari DD menggantikan Douwes Dekker.

Antara Ernest Douwes Dekker dan Eduard Douwes Dekker adalah orang yang berbeda, namun keduanya masih memiliki ikatan keluarga. Ikatan keluarga itu berasal dari ayah Danudirja yang merupakan keponakan dari Eduard Douwes Dekker, seseorang yang dikenal berani mengkritisi pemerintah kolonial Belanda.***

Fatwa Akhundzada

img ]

×

The ads will close in 10 Seconds